Sunday, July 03, 2016

Service Charge: Tips yang dipaksakan



Kalau semisal sedang makan di restoran, pernahkah memperhatikan struk pembayaran? Sekarang sering kali ada satu item pembayaran di sana, yaitu service charge. Sebetulnya, bukan sekarang saja sih, saya pertama kali ngeh mengenai hal ini sekitar tahun 2007, saat makan di cafe di sekitar Sarinah.
Sepengetahuan saya, Service Charge itu adalah istilah lain dari tips. Karena kalau itu bukan tips, jadinya kok terasa ada yang aneh, restauran hanya menjual makanan dan minuman, juga menyediakan tempat saja. Sedangkan jasa para pekerja di sana (koki, waitress, cleaning service, dll), itu semua berasal dari Service Charge.

Kalau benar demikian, berarti gaji dari pegawai di sana, tidaklah stabil, karena Service Charge ini besarnya bervariasi, tergantung dari kebijakan tiap resto.
Contoh, pada dua struk makanan di samping. Sebelah kiri, valuenya lebih kecil dari yang sebelah kanan, tetapi Service Chargenya lebih besar, entah kenapa bisa begitu.
Dan kalau benar gaji para pegawai itu bervariasi, wah, bisa jadi pas restoran sepi, gaji mereka di bawah UMP dong :(
Kalau benar dugaan saya, bahwa itu adalah tips, maka masih juga terasa aneh. Tips kok dipaksakan. Tips itu kan diberikan jika kita merasa pelayanan yang telah dilakukan dirasakan memuaskan, dan kita pun memberikannya secara suka rela, tanpa paksaaan.
Ibaratnya, kita mau memberi bagus, tidak juga tidak apa, karena para pekerja itu kan melakukan pekerjaan mereka, dan mereka digaji untuk itu. Tidak ada kewajiban bagi pelanggan untuk memberikan sesuatu ke mereka, apalagi sampai harus dilegalkan ke dalam struk.
Ini bukan masalah besar kecilnya nilai uang sih, karena bisa saja orang mengatakan, “Biarkan saja deh, paling berapa rupiah ini.” Tapi ini lebih ke arah prinsip dasar, yaitu sesuatu yang bukan keharusan, dipaksakan untuk menjadi keharusan.
Kabar baiknya adalah, saya jarang makan di restoran, dan yang ke dua, hal ini setahu saya baru terjadi di Jakarta.

No comments:

Post a Comment