Saturday, July 29, 2017

Ber otoped di jalanan Jakarta

Jakarta, semakin macet
Karena macet, waktu habis di jalan
Karena habis di jalan, tidak ada waktu untuk aktivitas lain, termasuk olahraga


Pernyataan di atas, adalah realita warga kota besar, khususnya Jakarta. Boro-boro mau olahraga, terkadang beli makan siang saja titip sama OB, dan makannya di pantry, saking tidak ada waktunya. Rasanya susah sekali menggeser pantat ini dari kursi kerja, seakan-akan ada lemnya.
Maka, jadi terasa lumrah jika semakin banyak generasi muda yang terserang penyakit degeneratif.
Lalu, bagaimana jika menghindari kemacetan bisa menjadi sarana kita berolahraga?
Sebagai penggemar kegiatan bersepeda, saya akan menjawab sangat mungkin! Bike 2 work solusinya. Bahkan Pak Sandi Uno, Wapres DKI Jakarta periode 2018 - 2023 pun mencoba untuk run to work.

Permasalahannya, berdasar pengalaman saya, warga yang jarak rumah dengan kantornya jauh (di atas 15 km), susah untuk melakukan hal itu. Perlu tekad yang sangat kuat sekali. Solusi yang bisa dipakai adalah, menggunakan otoped, dipadukan dengan angkutan umum. Paling tidak, itu yang sekarang sering saya lakukan.
Berikut pengalaman saya selama menggunakan otoped ini:
1. Ringkas
Bentuknya yang pipih dan bisa dilipat, sangat ringkas untuk dibawa masuk ke Transjakarta, KRL, dll. Beratnya juga ringan. Ditenteng juga enak. Kalau pas di KRL, bisa ditaruh di rak atas, tempat menaruh bawaan.
Aman di rak KRL

2. Cepat
Untuk jarak yang sama, dibandingkan dengan jalan kaki, waktu tempuhnya bisa berkurang setengahnya. Biasanya kalau saya jalan kaki dari stasiun ke rumah, perlu waktu 29 menit. Dengan otoped, cukup 15 menit. Kalau dibandingkan sepeda, memang lebih cepat sepeda, tapi lumayanlah penghematan waktunya
3. Dilihatin orang
Sepertinya orang memang belum terbiasa lihat om-om naik otoped pakai tas. Ya bukan salah mereka juga, karena di lingkungan Jakarta, otoped memang identik dengan anak-anak. Lain halnya dengan komunitas olahraga ekstrem, orang salto pakai otoped pun, biasa bagi mereka.
Wuzzz...
4. Capek
Ya pasti capeklah, namanya juga aktivitas fisik, apalagi kalau awal-awal. Berbeda dengan jalan kaki, ada dua aktivitas berbeda di setiap paha: kaki satu yang mendorong, dan kaki satu yang menahan di dek otoped. Dari keduanya, beban paling berat menurut saya ada di kaki penahan di dek otoped. Kaki ini, akan menahan berat tubuh, dan posisinya akan naik turun, tergantung kondisi kaki pendorong. Saat kaki pendorong ada di dekat dek, kaki penahan akan relatif lurus. Saat kaki pendorong sedang proses mendorong, kaki penahan ini akan memendek. Jadi disarankan kalau pakai otoped, kaki berganti secara berkala, atau resikonya paha bisa besar sebelah
5. Bergetar
Kontur jalanan di Jakarta, ternyata tidak terlalu halus. Akibatnya, karena otoped saya menggunakan ban mati, getarannya terasa sampai ke tangan. Bila ingin lebih enak, bisa menggunakan ban angin.
6. Gowes santai saja
Pertama kali, biar lebih ngebut, saya pakai pola 2-1. Artinya, kaki dua kali dorong, lalu angkat, dua kali dorong, lalu angkat lagi. Tapi ternyata, hasilnya adalah lebih cepat capek, dan sampainya juga tidak terlalu berbeda. Sekarangm, saya pakai pola 1 - 1 saja. Jadi dorong, angkat, menikmati gelindingan, kalau sudah mau berhenti, dorong lagi, dan seterusnya. Lebih enak, santai, dan tidak berkeringat

Itu tadi pengalaman saya selama ini menggunakan otoped. Sekarang ini pun sudah ada otoped listrik, jadi tinggal diputar saja gasnya. Lebih nyaman bagi yang beberapa orang. Tetapi buat saya, otoped listrik memang bisa mengurangi kemacetan, namun fungsi olahraganya jadi berkurang.
 

1 comment:

  1. Seru keliatannya pakai otoped, mas. Nggak nambah kemacetan, plus sehat juga

    Itu berarti waktu naik angkutan umum ditenteng2 gitu ya otopednya mas? :D

    ReplyDelete